Setiap hari, laboratorium klinik memproses sampel darah untuk menjawab berbagai pertanyaan sederhana tetapi penting: berapa banyak sel darah yang dimiliki seseorang? Apakah ukurannya normal? Bagaimana distribusinya? Dan apakah terdapat pola yang perlu diperhatikan lebih lanjut?
Salah satu pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk mendapatkan gambaran tersebut adalah Complete Blood Count (CBC).
Menariknya, CBC tidak hanya menghasilkan satu atau dua angka. Bergantung pada jenis hematology analyzer yang digunakan, satu pemeriksaan dapat menghasilkan berbagai parameter mengenai sel darah merah, sel darah putih, dan platelet—bahkan termasuk parameter tambahan yang menggambarkan karakteristik populasi sel.
Lalu, bagaimana sebuah mesin bisa mendapatkan semua informasi tersebut dari sampel darah yang volumenya relatif kecil?
Pada dasarnya, hematology analyzer bekerja dengan mendeteksi karakteristik fisik dan/atau optik sel.
Salah satu teknologi paling klasik adalah electrical impedance, yang berakar pada Coulter principle. Ketika sel darah melewati sebuah aperture kecil yang berada di antara elektroda, sel tersebut menyebabkan perubahan pada arus listrik. Besarnya perubahan tersebut berkaitan dengan ukuran sel, sehingga pulsa yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghitung dan mengukur sel.
Metode lainnya menggunakan light scattering. Dalam pendekatan optik, sel dilewatkan melalui area yang terkena cahaya. Cahaya yang kemudian dipantulkan atau dihamburkan oleh sel dapat memberikan informasi mengenai karakteristiknya, seperti ukuran dan struktur internal tertentu. Karena karakteristik setiap jenis sel tidak sepenuhnya sama, kombinasi berbagai sinyal tersebut memungkinkan analyzer membedakan populasi sel yang berbeda.
Jadi, hematology analyzer sebenarnya tidak “melihat darah” seperti manusia melihat sebuah objek.
Ia membaca pola sinyal yang dihasilkan oleh sel, kemudian menerjemahkannya menjadi data numerik.
Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi ketika sel-sel tersebut diterjemahkan menjadi parameter laboratorium.
Sel darah merah atau red blood cells (RBC) merupakan komponen seluler utama yang berfungsi membawa oksigen. Analyzer dapat menghasilkan beberapa parameter yang menggambarkan populasi RBC, antara lain:
RBC — jumlah sel darah merah
HGB — konsentrasi hemoglobin
HCT — proporsi volume darah yang ditempati sel darah merah
MCV — volume rata-rata sel darah merah
MCH — rata-rata jumlah hemoglobin per sel
MCHC — konsentrasi hemoglobin dalam sel darah merah
RDW — variasi ukuran sel darah merah
Di sinilah menariknya.
Misalnya, MCV bukan sekadar “angka tambahan”. Parameter ini menggambarkan ukuran rata-rata populasi sel darah merah. Sementara RDW menggambarkan variasi ukuran di dalam populasi tersebut.
Dengan demikian, analyzer tidak hanya bertanya:
“Berapa banyak sel yang ada?”
Tetapi juga:
“Seperti apa karakteristik populasi sel tersebut?”
Hal yang sama berlaku pada white blood cells (WBC). Jumlah total WBC memberikan informasi mengenai banyaknya sel darah putih dalam sampel. Namun, sel darah putih sendiri terdiri dari beberapa kelompok dengan karakteristik dan fungsi yang berbeda. Pada analyzer yang memiliki kemampuan differential count, populasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, seperti:
Sistem five-part differential seperti ini merupakan salah satu kemampuan yang tersedia pada banyak hematology analyzer modern, meskipun konfigurasi dan metode analisis dapat berbeda antar instrumen. Beberapa sistem bahkan menggunakan kombinasi impedance, conductivity, light scatter, fluorescence, atau teknik lainnya untuk mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai populasi sel.
Dengan kata lain, mesin tidak hanya menghitung jumlah sel darah putih. Ia juga mencoba menjawab:
“Sel seperti apa yang sedang saya ukur?”
Platelet atau trombosit berukuran jauh lebih kecil dibandingkan sel darah merah dan sel darah putih. Analyzer dapat menghitung jumlah platelet (PLT) sekaligus, pada instrumen tertentu, menghasilkan parameter tambahan seperti mean platelet volume (MPV). Menariknya, perbedaan ukuran sel menjadi salah satu alasan mengapa sistem pengukuran dan klasifikasi pada hematology analyzer perlu dirancang secara presisi.
Sel yang sangat kecil, sel yang berukuran lebih besar, serta partikel lain dalam sampel harus dapat dibedakan dengan cukup baik agar menghasilkan data yang dapat diandalkan.
Perkembangan teknologi hematology analyzer membuat pemeriksaan CBC jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar menghitung sel secara manual.
Literatur mengenai automated hematology analyzer menjelaskan bahwa instrumen modern dapat menggabungkan beberapa prinsip pengukuran—mulai dari electrical impedance hingga optical/light scatter dan fluorescence-based analysis—untuk menghasilkan cell count, differential count, serta berbagai parameter tambahan.
Pada teknologi tertentu, bahkan data mengenai ribuan sel dapat dikumpulkan dalam hitungan detik untuk membantu menggambarkan karakteristik suatu populasi sel. Sebagai contoh, sistem VCS yang dibahas dalam literatur dapat memperoleh data dari lebih dari 8.000 sel darah putih dalam beberapa detik, menggunakan kombinasi pengukuran volume, konduktivitas, dan light scatter. Angka tersebut memang spesifik pada teknologi tertentu, bukan berarti semua hematology analyzer bekerja dengan jumlah dan metode yang sama.
Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai satu hal:
yang dianalisis bukan hanya satu atau dua sel, melainkan pola dari sebuah populasi sel.
Pada akhirnya, semua sinyal tersebut harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat digunakan oleh manusia.
Sel → Sinyal → Pengukuran → Parameter → Laporan
Inilah salah satu bagian paling menarik dari automated hematology.
Sesuatu yang berada pada skala mikroskopis dapat diubah menjadi angka seperti:
RBC 4,xx × 10?/µL
HGB xx g/dL
MCV xx fL
WBC x,xxx/µL
PLT xxx × 10³/µL
Angka-angka tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari gambaran klinis yang lebih besar.
Tetapi ada satu hal yang penting:
Hasil CBC tidak seharusnya dibaca sebagai kumpulan angka yang berdiri sendiri.
Kondisi pasien, riwayat klinis, nilai rujukan, metode pemeriksaan, kualitas spesimen, serta hasil pemeriksaan lainnya tetap berperan dalam interpretasi.
Pada kondisi tertentu, hasil yang tidak sesuai atau mencurigakan juga dapat memerlukan pemeriksaan lanjutan, misalnya peripheral blood smear, yang memungkinkan morfologi sel diperiksa secara langsung oleh tenaga laboratorium. Literatur juga menekankan bahwa automated analyzer dapat menghasilkan hasil yang tidak dapat diandalkan pada kondisi spesimen tertentu, sehingga diperlukan penilaian dan tindak lanjut oleh profesional laboratorium.
Ada bagian lain yang sering luput dari perhatian: apa yang terjadi sebelum darah masuk ke analyzer?
Dalam laboratorium, proses pemeriksaan tidak dimulai ketika tombol start pada analyzer ditekan. Sebelumnya terdapat fase pre-analytical, yang mencakup proses seperti persiapan pasien, pengambilan darah, pemilihan tabung, pelabelan, pencampuran, penyimpanan, hingga transportasi spesimen. Dan fase ini ternyata cukup signifikan. Dalam sebuah penelitian terhadap 67.892 sampel hematologi, sebanyak 886 sampel (1,3%) harus ditolak karena kesalahan pre-analytical. Penyebab terbanyak dalam penelitian tersebut adalah volume sampel yang tidak mencukupi, yang menyumbang 54,17% dari sampel yang ditolak.
Studi lain terhadap lebih dari 471.000 sampel juga menemukan adanya kesalahan pre-analytical, dengan sampel menggumpal (clotted sample) menjadi salah satu masalah yang paling sering ditemukan. Angka tersebut berasal dari laboratorium dan populasi penelitian tertentu, sehingga tidak dapat dianggap sebagai angka universal untuk semua laboratorium. Namun pesannya jelas:
alat yang sangat canggih tetap tidak dapat sepenuhnya memperbaiki spesimen yang sejak awal tidak memenuhi persyaratan pemeriksaan.
Sebuah ulasan di Clinical Biochemistry bahkan menekankan bahwa apabila spesimen yang digunakan tidak sesuai, prosedur analitik dan teknologi yang sangat baik sekalipun tidak dapat menghasilkan hasil yang dapat diandalkan secara klinis.
Bukan penyakit.
Bukan pula tubuh manusia secara keseluruhan.
Yang dibaca adalah karakteristik sel dalam sebuah sampel, kemudian karakteristik tersebut diubah menjadi data.
Dari jumlah sel, ukuran, distribusi, hingga sinyal optik atau listrik yang dihasilkan ketika sel melewati sistem pengukuran, hematology analyzer mengubah fenomena biologis yang sangat kecil menjadi informasi yang dapat dianalisis. Dan di situlah teknologi menjadi menarik. Karena di antara sebuah tabung berisi darah dan sebuah laporan laboratorium, terdapat perpaduan antara:
biologi + fisika + teknologi + algoritma + keahlian manusia.
Satu sampel.
Ribuan sel.
Puluhan parameter.
Dan sebuah sistem yang dirancang untuk mengubah semuanya menjadi informasi yang dapat membantu proses pengambilan keputusan klinis.
Sumber & Referensi:
Medical, Hospital & Laboratory Equipment
Komplek Taman Candiloka Blok E2 No. 43 Candi, Sidoarjo, Jawa Timur 61271
© 2025 PT. Radhar Delta Bersaudara. All Rights Reserved.