Christiaan Huygens menggunakan istilah centrifugal force dalam karyanya pada 1659. Namun, penggunaan centrifugation sebagai teknologi pemisahan berkembang jauh setelah pemahaman fisikanya terbentuk.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 1860-an, ketika centrifuge mulai dikembangkan untuk industri susu.
Ada sedikit perbedaan penyebutan dalam sumber sejarah mengenai siapa yang dapat disebut sebagai pengembang awal. Eppendorf mencatat Antonin Prandtl pada 1864 sebagai salah satu pelopor centrifuge untuk pemisahan krim dari susu. Sementara sumber sejarah teknologi juga menempatkan Gustaf de Laval pada 1878 sebagai tokoh penting dalam pengembangan continuous centrifugal cream separator. De Laval mengembangkan separator yang memungkinkan susu dipisahkan menjadi krim dan skim milk secara kontinu. Teknologi ini menjadi salah satu contoh awal bagaimana gaya sentrifugal digunakan secara praktis dalam skala industri.
Pada akhir abad ke-19, teknik pemisahan berbasis gaya sentrifugal mulai berkontribusi pada perkembangan penelitian biologi sel dan molekuler. Friedrich Miescher berhasil mengisolasi suatu substansi dari inti sel yang ia sebut “nuclein”, yang kemudian diketahui berkaitan dengan DNA. Proses isolasi tersebut tidak bergantung pada centrifugation semata, melainkan melibatkan serangkaian tahapan kimia untuk memisahkan material seluler dan memperoleh substansi dari inti sel.
Pada 1923, ilmuwan Swedia Theodor Svedberg mengembangkan analytical ultracentrifuge, yang memungkinkan ilmuwan mempelajari perilaku sedimentasi partikel yang sangat kecil.
Svedberg dan J. Burton Nichols mempublikasikan penelitian mengenai penentuan ukuran dan distribusi ukuran partikel menggunakan metode centrifugal pada Journal of the American Chemical Society pada 1923. Kemudian pada 1924, Svedberg dan Harald Rinde menerbitkan penelitian mengenai ultracentrifuge, yang memungkinkan pengamatan terhadap partikel koloid berukuran mikroskopis.
Pada 1940-an, centrifugation berkembang pesat dalam penelitian sel. Teknik ini memungkinkan para ilmuwan memisahkan komponen-komponen subseluler berdasarkan karakteristik seperti ukuran dan densitas.
Setelah itu, teknologi centrifuge semakin masuk ke laboratorium klinis. Centrifuge kemudian digunakan untuk memisahkan komponen darah, misalnya:
Whole blood
↓ centrifugation
Plasma / serum + cellular components
Dalam laboratorium klinis, centrifuge digunakan antara lain untuk preparasi serum, plasma, urine sediment, hematokrit, pemisahan komponen sel, hingga berbagai aplikasi biokimia dan molekuler. Literatur terbaru bahkan menunjukkan bahwa centrifugation menjadi salah satu area yang membutuhkan pemahaman teknis dan pelatihan operator untuk mengurangi pre-analytical errors.
Dari pemisahan krim susu hingga preparasi sampel klinis, centrifuge telah berkembang menjadi salah satu teknologi pemisahan yang fundamental dalam dunia sains, industri, dan pelayanan kesehatan.
Sumber dan Referensi:
Beams, H. W., & Kessel, R. G. (1987). Development of centrifuges and their use in the study of living cells. International Review of Cytology, 100, 15–48. DOI: 10.1016/S0074-7696(08)61697-6.
The evolution of liquid and gas centrifuges. (1978). Endeavour, 2(3), 142–148. DOI: 10.1016/0160-9327(78)90008-X.
Svedberg, T., & Nichols, J. B. (1923). Determination of size and distribution of size of particle by centrifugal methods. Journal of the American Chemical Society, 45, 2910–2917.
Svedberg, T., & Rinde, H. (1924).The ultra-centrifuge, a new instrument for the determination of size and distribution of size of particle in a microscopic colloids. Journal of the American Chemical Society, 46, 2677–2693.
Medical, Hospital & Laboratory Equipment
Komplek Taman Candiloka Blok E2 No. 43 Candi, Sidoarjo, Jawa Timur 61271
© 2025 PT. Radhar Delta Bersaudara. All Rights Reserved.